Apa yang di maksud difabel (penyandang disabilitas)? Sebenarnya difabel akronim Different Ability People (orang dengan kemampuan berbeda ), yang di maksudkan bahwa orang yang memiliki perbedaan dalam melakukan sesuatu karena kehilangan atau berkurangnya fungsi salah satu anggota badannya. Bukan berarti tidak bisa apa-apa namun hanya berbeda saja dalam melakukan aktifitas. difabel dan disabilitas adalah persoalan mengenai cacat dan kecacatan, yang perlu di sadari bahwa setiap orang mempunyai potensi menjadi difabel melalui musibah, kesehatan, bencana alam, konflik sosial dan faktor keturunan.\r\n\r\nKetika orang memakai kaca mata sesungguhya tanpa di sadari dia telah menjadi seorang difabel karena kemampuan pandangan matanya sudah berkurang sehingga untuk dapat melihat dan harus memakai alat bantu (kaca mata). Demikian juga dengan wanita hamil dan lansia serupa juga terhambat melakukan aktifitas sehari-hari.\r\n\r\nPersoalan difabel  adalah persoalan setiap orang baik secara individu, keluarga, masyarakat maupun pemerintah, karena menjadi seseorang pasti mempunyai perbedaan kemampuan bukan untuk di bedakan dalam memperlakukannya. Sebagaimana warna kulit ada yang hitam,putih, coklat bahkan ada yang albino, tapi tentu di perlakukan sama, bukan karena hitam terus di biarkan saja kalau sedang sakit.\r\n\r\nMaka perlu ada pengarusutamaan dalam pola pikir masyarakat bahwa difabel dan disabilitas adalah persoalan setiap orang, sehingga akan terbentuk kesadaran untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang inklusi yang dapat di nikmati oleh setiap orang. Ketika kesadaran masyarakat belum terbentuk dan terbangun maka akan terjadi multi diskriminasi baik dari keluarga sendiri maupun masyarakat, bahkan banyak terjadi penolakan dari pihak keluarga karena di anggap menjadi beban baru bagi keluarga.\r\n\r\nHingga sekarang ini masih banyak prilaku dan stigma masyarakat sebagai berikut :\r\n

    \r\n

  • Aib atau kutukan karena orang tuanya telah melakukan perbuatan yang di larang atau telah melanggar adat, maka muncullah difabel yang di sembunyikan bahkan sampai dipasung karena malu mempunyai anggota keluarga yang difabel. Stigma ini sebenarnya terjadi dan di pengaruhi oleh kepercayaan lama, namun anehnya di zaman modern sekarang ini, masih banyak terjadi anggota keluarga memasung anaknya atau saudaranya.
  • \r\n

  • Orang yang mempunyai penderitaan atau penyakit, sehingga dijauhkan dari kehidupan sosial masyarakat dan prilaku diskriminatif.
  • \r\n

  • Orang yang tidak berdaya , tidak produktif karena kedifabelannya, maka muncul prilaku di kasihani, di santuni dengan program yang hanya sesaat, hal ini yang menciptakan ketergantungan difabel . Contoh yang nyata terjadi ada difabel yang akan belanja di toko, oleh pelayan toko malah di beri uang recehan, karena dikira peminta-minta.
  • \r\n

  • Persoalan difabel adalah persoalan individu, sehingga difabelah yang harus menyelesaikan sendiri dengan bentuk integrasi sosial dimana harus menyesuaikan dengan kondisi sosial ketika tidak dapat berinegrasi dengan sendirinya akan tersisih.
  • \r\n

  • Persoalan difabel adalah persoalan yang khusus yang terpisah dari persoalan yang lain, muncul penanganan segregatif dengan adanya sekolah khusus  SLB, panti-panti khusus difabel yang eklusif, parahnya lagi panti khusus satu jenis difabel (daksa, netra dsb) di beda-bedakan.
  • \r\n

  • Persoalan difabel adalah masalah sosial sehingga penanganan sama secara inklusi dengan persoalan yang lain tidak di pisah-pisahkan dari persoalan sosial lainnya.
  • \r\n

\r\nUntuk mencapai penanganan difabel yang inklusi dari masalah sosial yang tentunya memerlukan dukungan dan keberpihakan dari pemerintah, maka telah lahir UU No.4/97 tentang Penyandang Cacat dan PP No.43 tentang Kesejahteraan Penyandang Cacat serta beberapa Kep Men terkait dengan dua perudangan tersebut, bahkan di beberapa daerah telah lahir Perda ( Peraturan Daerah ) seperti di Propinsi Jawa Barat, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, Bantul Yogyakarta.  Namun sejauh ini implementasinya masih jauh dari harapan, sehingga munculah gerakan-gerakan perjuangan oleh komunitas difabel di berbagai daerah melalui Organisasi difabel ( DPO ) baik lokal maupun Nasional bahkan Internasional dengan adanya CBR Asia Pasifik.\r\n\r\nSemua ini dalam rangka upaya pemenuhan hak-hak difabel sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ( DUHAM ), Konvensi Hak difabel.\r\n\r\nPenulis: Agus Budianto