Tak kenal, maka tak sayang.\r\n\r\nPepatah di atas tampaknya menjadi hukum dasar untuk mengetahui karakteristik seseorang atau komunitas sebelum memasuki dunianya lebih dalam. Mengenal tak berarti hanya mengetahui nama, asal, dan hal-hal permukaan lainnya. Mengenal, menurut tim program Saujana, adalah duduk bersama, berdialog mengenai masalah dan alternatif solusinya. Dari sinilah Saujana mulai bersentuhan di dunia disabilitas.\r\n\r\nSejak September tahun ini, Saujana telah melangkah bersama Penyandang Disabilitas. Dalam tiga bulan terakhir, Saujana berupaya mengenal, mendalami, dan terlibat sebagian dari kehidupan mereka. Fokus Saujana untuk teman-teman Penyandang Disabilitas adalah bagaimana menyatukan media, teknologi, dan informasi terkait pekerjaan dan penghidupan ke dalam suatu sarana yang dapat diakses melalui jaringan internet.\r\n\r\nSia-sia saat sebuah program direalisasikan tanpa melibatkan pengguna utamanya. Oleh karena itu, pada Oktober lalu, tim program Saujana, melakukan kunjungan dan Diskusi Kelompok Terarah atau FGD ke beberapa komunitas Penyandang Disabilitas di tiga kota; Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.\r\n\r\nTiga hari, 15-17 Oktober, tim project Saujana bertemu dengan 13 komunitas Penyandang Disabilitas yang tersebar di Surabaya dan Malang, yakni Disabled Motorcycle Indonesia (DMI) Jawa Timur, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Surabaya, D-Care Surabaya, SLB-B Karya Mulia Surabaya, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Surabaya, Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) Surabaya, Persatuan Tunanetra Alumni Malang (PERTAMA) Surabaya, Yayasan Bhakti Luhur Malang, Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) Malang, LBH Disabilitas Malang, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Malang, Forum Mahasiswa Peduli Disabel (FORMAPI) Universitas Brawijaya Malang, Pusat Informasi Hukum dan Disabilitas Indonesia (solider.or.id).\r\n\r\nDiskusi bersama ini, sekurang-kurangnya, menkan tiga hal mendasar. Pertama, identifikasi persoalan penyandang disabilitas dalam mengakses pekerjaan. Kedua, pemetaan kebutuhan informasi pekerjaan melalui media alternatif dan teknologi informasi yang ramah bagi penyandang disabilitas. Terakhir, pemetaan kebutuhan peningkatan kapasitas, baik pengetahuan dan keterampilan hidup (life skill), bagi penyandang disabilitas.\r\n\r\nDari  santai sembari diselingi makan, Saujana semakin mengenal dunia teman-teman Penyandang Disabilitas dan permasalahan terkait akses pekerjaan. Ada beberapa hal penting yang ditekankan oleh teman-teman komunitas. Salah satunya, tidak hanya berupa kesadaran dari pemerintah saja, tetapi juga dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan teman-teman Penyandang Disabilitas.\r\n\r\nPerhatian pemerintah terhadap Penyandang Disabilitas sudah sangat banyak. Sayangnya, perhatian tersebut disalurkan melalui cara-cara yang terlalu mudah sehingga Penyandang Disabilitas kurang mendapatkan ilmu yang bisa diterapkan secara nyata di masyarakat. Dan sayangnya lagi, seusai pelatihan, pemerintah seolah langsung lepas tangan. Lalu pertanyaan besarnya adalah, bagaimana pemerintah tahu atau yakin bahwa programnya telah berhasil bila tidak ada indikator atau pemantauan yang jelas dan berkelanjutan? Penyandang Disabilitas membutuhkan waktu untuk adaptasi lingkungan lebih lama. Oleh karena itu, Penyandang Disabilitas perlu dibimbing untuk mendapatkan pengetahuan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.\r\n\r\nBagi Penyandang Disabilitas yang telah bekerja, aksesibilitas pun masih menjadi persoalan, baik aksesibilitas fisik maupun aksesibilitas perspekstif dari lingkungan tempat kerjanya.  Banyak kebutuhan Penyandang Disabilitas di tempat kerja yang belum terpenuhi karena konsep inklusi yang belum benar-benar merasuk di masyarakat. Sifat inklusi tidak hanya berupa materi di perusahaan saja, pimpinan perusahaan perlu memiliki kepribadian inklusi. Kebutuhan Penyandang Disabilitas tidak hanya terkait fasilitas yang aksesibel, tetapi juga kebutuhan didukung dan dipahami.\r\n\r\nSeminggu kemudian, tepatnya 26 Oktober 2014, Saujana mengadakan diskusi kelompok terarah yang melibatkan beberapa LSM dan komunitas di Yogyakarta.\r\n\r\nDiskusi kelompok terarah ini dibagi ke dalam tiga sesi .  sesi pertama mengupas permasalahan yang dihadapi Penyandang Disabilitas dalam mengakses pekerjaan dan penghidupan.  sesi kedua membahas alternatif solusi yang dihadapi Penyandang Disabilitas dalam mengakses pekerjaan dan penghidupan.  sesi ketiga membicarakan kebutuhan informasi pekerjaan terkait pengembangan media internet dan aplikasi ponsel pintar serta peningkatan kapasitas keterampilan kerja dan pengetahuan bagi Penyandang Disabilitas.\r\n\r\nHasil diskusi bersama dengan berbagai komunitas Penyandang Disabilitas adalah fondasi penting bagi Saujana untuk merealisasikan mimpi besar, yakni berdampingan dengan Penyandang Disabilitas media dan teknologi yang dapat membantu teman-teman Penyandang Disabilitas dalam mengakses pekerjaan.