Rumah service Risky Electronik itu terletak di Moyudan, kecamatan Sumberrahayu, Sleman, Yogyakarta. Wahyu Slamet menuturkan, ia menamai tempat usahanya itu sesuai dengan nama sang anak. “Saya mulai merintis usaha service mandiri secara berkeliling saat istri hamil. Beberapa minggu kemudian anakku lahir dan kami pun juga telah siap menetap sekaligus membuka tempat usaha,” kisahnya. Tak terasa, sudah tiga tahun, ia dan sang istri, Nunung, menekuni service alat-alat listrik di sebuah kontrakan dekat jalan raya.\r\n\r\nPasangan suami istri disabel ini sejak awal berkomitmen untuk mandiri total. Mereka sengaja melepaskan diri dari fasilitas yang disediakan keluarga guna mematahkan mental disabel. Menurut Wahyu, mental disabel merupakan salah satu bagian dari bentuk ketidakmandirian penyandang disabilitas. “Saya mengajarkan pada istri bahwa setelah menikah, kami harus ngontrak dan cari makan sendiri. Saat itu, pertanyaan saya padanya sederhana, kamu bisa tidak jika makan tidak perlu minta orang tua?”, kata Wahyu. Pria kelahiran 1980 ini memang cukup keras dengan istilah mental disabel. Baginya, mental disabel adalah sesuatu yang harus dihancurkan sesuai dengan cara masing-masing individu. “Saya gemas bila melihat teman-teman penyandang disabilitas yang masih memiliki mental seperti itu,” ungkapnya.\r\n\r\nWahyu sendiri menghancurkan mental disabelnya melalui pengalamannya bekerja. Ia pernah merantau ke Solo, Jakarta, dan Surabaya. “Mulai dari pedagang asongan di KRL (Kereta Rel Listrik) Jakarta-Bogor, ikut orang di daerah Porong, hingga tukang pasang tenda di Boyolali pun sudah pernah tak lakoni,” kisahnya. Keinginan Wahyu untuk bekerja lebih baik dan lebih aman mendorongnya ikut kursus service elektronik di sebuah yayasan di Yogyakarta pada tahun 2005. Selesai pelatihan, ia lantas menjadi instruktur di tempat yang sama.\r\n\r\nBelum merasa cukup dengan keterampilannya saat itu, Wahyu kemudian mencari perusahaan yang mau merekrutnya sebagai staf service elektronik. Ia pun diterima bekerja di sebuah pusat service salah satu merk di Yogyakarta. “Di mana pun bekerja, ikut siapa pun, hendaklah kita menjalin hubungan baik dengan rekan kerja dan atasan. Banyak manfaat yang bisa kita peroleh,” pesannya.\r\n\r\nPernyataan Wahyu itu telah dibuktikannya sendiri. Setelah 9 bulan bekerja di pusat service itu, Wahyu dan Nunung harus kembali ke Boyolali karena ingin menemani sang adik yang sakit dan akhirnya dipanggil Yang Mahakuasa. Seusai masa berkabung, Wahyu dan Nunung tidak segera berpikir kembali ke Yogyakarta dan bekerja sebagai staf service lagi. “Saya dan istri malah ingin mencoba jualan cilok. Saya meminta istri untuk belajar membuatnya. Dan saya memikirkan gerobaknya. Eh, ternyata Tuhan berkehendak lain,” tuturnya. Seorang sahabat memberikan informasi adanya pelatihan dari dinas sosial di Pundong, Bantul, Yogyakarta untuk para penyandang disabilitas. “Saya langsung mendaftar masuk ke elektro, sementara istri mendalami jahit kulit.”\r\n\r\nMembuka usaha service hingga maju seperti sekarang ini bukan hal semudah membalikkan telapak tangan saja. “Awal ngontrak dulu, rumah sekaligus tempat usaha kami ini seperti tidak pernah tidur. Pagi hingga tengah malam, saya melayani service. Nanti subuh, istri saya mengerjakan jahitan,” kenangnya. Sekarang, usaha utama pasangan suami istri ini adalah service elektronik. Mereka sepakat untuk tidak menerima pesanan jahitan. Bahkan, untuk permak baju pun tidak akan diterima bila pelanggan meminta pengerjaan yang cepat. “Sekarang, Nunung terlibat lebih dalam lagi di usaha ini. Dia sudah bisa service setrika, merakit kabel, dan mengatur seluruh manajemen usaha ini. Saya taunya hanya service saja.”\r\n\r\nDalam menjalankan usahanya, Wahyu berpegang pada rencana dan target. “Perencanaan sangat penting. Rencana adalah persiapan untuk hari-hari di masa mendatang. Oleh karena itu, kami berdua menulis bersama-sama target apa saja yang ingin kami capai dalam satu hari, satu minggu, bulanan, hingga tahunan,” tegas Wahyu.\r\n\r\nSelain perencanaan yang matang, Wahyu dan Nunung menerapkan pula sistem komunikasi dan sistem pengerjaan service yang berkualitas. “Kami menyadari pentingnya komunikasi untuk menunjang usaha ini. Mulai dari komunikasi dengan dealer sparepart, partner kerja, dan pelanggan.” Wahyu memiliki kontak lengkap dealer berbagai merk untuk memudahkan pembelian sparepart orisinal. Partner kerja adalah mereka yang membantu Wahyu dan Nunung dalam menghidupkan usahanya. Bagi mereka, partner kerja adalah bagian dari keluarga mereka. Partner mereka tidak hanya berasal dari teman-teman Wahyu yang memiliki keterampilan service saja, tetapi juga siswa-siswa SMK yang magang di sana. Pelanggan Risky Electronik pun dijaga benar oleh Wahyu dan Nunung melalui pemberian garansi perbaikan selama 2 minggu setelah service, pemberian pertimbangan harga service, pelayanan antar-jemput alat-alat elektronik, dan informasi terkait service lainnya.\r\n\r\nWahyu berani menjamin bahwa semua sparepart untuk servicenya ini adalah orisinal dari pabrik merk yang bersangkutan. “Mungkin ada yang bilang Risky Elektronik mahal. Itu karena kami menggunakan sparepart orisinal. Kami ada bukti dari dealer langsung tentang harga dan sebagainya. Kalau pelanggan ragu dengan orisinalitas sparepart, silakan lihat surat-surat pembelian.”\r\n\r\nSebagai seorang manusia, lumrah bila Wahyu pun pernah mengalami saat-saat jenuh. Menyadari bahwa kejenuhan itu bisa mengacaukan pekerjaannya, Wahyu pun berhenti sejenak. Ia mengunjungi teman-teman sesama penyandang disabilitas. Perputaran informasi dan cerita pun berlangsung diantara mereka. “Saya mendapatkan ilmu, sekaligus menyegarkan pikiran saya,” ungkapnya.\r\n\r\nMental disabel memang tidak mudah dihilangkan, tetapi bukan tidak mungkin. Perlahan-lahan, mental disabel akan hilang bila kita setia menjaga semangat untuk bekerja dan berkarya. Beberapa saran dan tips berikut ini disampaikan oleh Wahyu untuk membantu kita menghilangkan mental disabel itu di dalam interaksi sosial masyarakat:\r\n

    \r\n

  1. Yakinlah dengan diri sendiri. Jangan tergantung pada orang tua atau keluarga. Keluarlah dari zona nyaman. Sikap ini akan membentuk ketangguhan kita dalam menghadapi tantangan-tantangan berikutnya.
  2. \r\n

  3. Jangan memiliki harapan konyol. Artinya, bila kita baru mampu membeli HP berfasilitas standar, belilah HP tersebut. Keinginan membeli HP di luar jangkauan kita hanya akan membuat kita terbeban. Jangan sampai merepotkan orang tua hanya untuk memenuhi harapan konyol atas HP canggih.
  4. \r\n

  5. Buatlah perencanaan tertulis. Cantumkan target harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Setiap selesai bekerja, refleksikan rencana itu, apakah sudah sesuai dengan harapan kita, apa saja kendala dan alternatif solusinya, dan lain-lain.
  6. \r\n

  7. Bekerjalah maksimal dan efektif. Semakin efektif, semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan pada hari itu.
  8. \r\n

  9. Disiplinkan diri untuk menjalani jadwal dan target yang telah dibuat.
  10. \r\n

  11. Bersikaplah rendah hati. Artinya, kita bersedia menerima ilmu dari teman-teman yang lebih muda atau lebih berpengalaman, komplain dari pelanggan, saran dari pasangan, dan berbagai sumber ilmu lainnya.
  12. \r\n

  13. Kembangkanlah usaha utama. Contohnya, Wahyu membuka usaha service, namun ia juga menjual beberapa barang elektronik.
  14. \r\n

\r\nHarapan Wahyu ke depan untuk usaha servicenya adalah bisa menggandeng beberapa partner kerja supaya pekerjaan tidak menumpuk sehingga perputaran uang semakin cepat pula dan ingin memperluas bisnis penjualan alat-alat elektronik yang saat ini masih sangat minim.  Mungkin ada yang tertarik belajar service elektronik dengan Wahyu dan Risky Electroniknya?