Kemauan dan mimpi-mimpinya yang tinggi tidak menyurutkan langkah Suparno untuk terjun wirausaha sablon, meski kecelakaan kerja waktu menjadi TKI di Malaysia telah merenggut sebagian daya kakinya untuk bergerak. Dua kakinya saat ini memang lumpuh sehingga harus selalu ditopang dengan sebuah kursi roda. Semangatnya yang luar biasa untuk menggapai asa, mengalahkah semua keterbatasan fisik yang menderanya.\r\n\r\nSetelah mengikuti pelatihan Desain grafis di BRTPD Pundong, Bantul pada 2012,  Suparno dan teman-teman seangkatan mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Galeri BRTPD. KUB PELANGI namanya. Namun setahun kemudian, Suparno memutuskan keluar, dia nekat mendirikan usaha sendiri untuk mewujudkan cita-citanya. Keterbatasan fisik benar-benar tidak mampu menjadi penghalang baginya. Walaupun kemana-mana dia harus memakai kursi roda, ia tetap maju bertekad membangun wirausahanya. Dia pun berharap wirausaha sablon yang dirintisnya bisa cepat berkembang.\r\n\r\nJALADHARA CETAK SABLON bertempat di Dukuh Kijon, Kelurahan Bengking, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. “Tidak ada kata telat untuk menjadi wirausahawan,” tegas pria kelahiran 31 Desember 1983. Saat membuka usaha ini, investasi awal yang dikeluarkannya tidak terlalu besar, sekitar Rp 1 juta.\r\n\r\n“Saya mengerjakan sablon dibantu istri, Nurul Latifa, yang saya kenal waktu masih mengikuti pelatihan di BRTPD Pundong,” cetus Suparno. Menurut Suparno, yang membuat wirausahanya bisa tetap hidup sampai sekarang adalah orderan dari pelanggan secara berkala. “Memang orderan itu kadang-kadang berupa lemparan. Jadi dari juragan sablon lainnya. Tetapi, dari siapapun sumbernya, saya bersyukur bisa mengerjakannya.”\r\n\r\nHarga sablon lemparan Suparno, bila didetilkan, memang terasa sangat kecil. Satu bungkus plastik berisi 50 lembar. Suparno mengenakan harga sablon sebesar Rp 35 hingga Rp 70 untuk satu lembarnya tergantung dari ketebalan plastik dan tingkat kesulitan saat menyablonnya. ”Semakin tipis, plastik itu akan semakin sulit disablon. Harus bergerak cepat karena tinta sablon itu cepat sekali kering,” tutur Suparno. Untuk pengerjaan khusus tas kresek, Suparno menghargai Rp 100 per satu lembar. “Kalau mau beda warna, harus tambah. Per satu warna, saya hargai Rp 50,” jelasnya.\r\n\r\nSaat ditanya mengenai harga juragan sablon yang langsung terhubung ke pemesan, Suparno menyatakan ketidaktahuannya. Suparno hanya berpegang pada harga yang ditetapkan. “Kita menganut sistem yang sama-sama menguntungkan karena sejujurnya  saya masih belum percaya diri untuk melobi pelanggan baru. Soalnya masih terhambat di peralatan. Yah semua pengerjaan masih manual sifatnya,” tuturnya. Harapan Suparno saat ini sederhana, yakni bisa menabung dari hasil wirausahanya untuk membeli mesin printing. “Harganya jutaan. Digital Sablon Kaos dibandrol Rp 5,9 juta. Digital Sablon Mug Rp 6 juta. Digital Printing Banner malah di atas Rp 100 juta,” tutup Suparno.\r\n\r\nWakris, penyandang disabilitas kelahiran 9 September 1979, sejak kelas 5 SD sudah ditinggal sang ayah. Empat tahun kemudian, sang ibu pun menyusul. Wakris seketika menyadari  bahwa hidupnya sebatang kara kini, namun bukan berarti lantas tidak bisa hidup mandiri dan menghasilkan karya-karya.\r\n\r\nPada tahun 2000, Wakris memutuskan bergabung di Pusat Rehabilitasi Yakkum.  Ia mengambil kursus mengukir yang diadakan khusus di Jepara. Di kota ini, Wakris kemudian  mendapatkan pekerjaan di perusahaan mebel. Setelah cukup lama bergabung, Wakris keluar dari perusahaan pada tahun 2012 untuk berwirausaha.\r\n\r\nMenurutnya, awal terberat memulai usaha adalah mencari pelanggan. “Saya belum tahu bagaimana mencari pelanggan. Oleh karena itu, yang saya mulai pertama kali adalah tetap melatih keterampilan mengukir saya.” Bahan baku yang dipakai Wakris berasal dari limbah yang sudah tak terpakai. Setiap hari, Wakris mengerjakan ukiran di rumahnya yang terletak di Dusun Watu Agung, Kecamatan Suruh, Rt 03/ Rw 09, Kabupaten Semarang.  Sanggar Suwung, nama galeri tempat ia berkarya. Disini, Wakris berkreasi membuat  berbagai ukiran  kaligrafi  pesanan pelanggan atau celengan yang terbuat dari batok kelapa dan dibentuk dengan berbagai rupa macam binatang. “Ide bentuknya tidak hanya berasal dari saya saja, tetapi saya juga berasal dari teman-teman dan pelanggan.”\r\n\r\n“Saya membawa ukiran kaligrafi dan celengan batok ke pasar dengan kursi roda. Kadang, saya masih dikira ngemis,” kisahnya. Saat pesanan ukiran sedang sepi, Wakris membawa barang-barang lain untuk dijual, seperti kemoceng dan makanan ringan macam kerupuk. Ia pun tidak hanya mengandalkan pasar sebagai lokasi usaha saja, tetapi ia juga berkeliling dengan motor sespannya.\r\n\r\n“Car Free Day di akhir pekan biasanya jadi hari di mana dagangan saya sangat laku.” . Wakris biasanya mematok harga ukiran kaligrafi mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 350 ribu. “Tergantung besarnya ukiran dan tingkat kerumitannya.” Untuk celengan batok kelapa, Wakris menghargainya Rp 20-25 ribu.\r\n\r\nTerkait bahan baku, Wakris memperolehnya dengan harga cukup murah. Satu biji batok kelapa Rp 500. Sementara, kayu untuk ukiran dibeli mulai dari harga Rp 25 ribu. “Yang membuat mahal adalah kerumitan mengukirnya. Ukiran adalah bagian dari seni dan kreativitas.” Menurut Wakris, yang paling banyak diminati pembelinya adalah kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad.\r\n\r\nBeruntung  pada Paralympic tahun 2013, cabang olah raga bowling yang ia ikuti mendali emas berhasi digondolnya, dari itu ia mendapat bonus 4 juta rupiah. Uang itu gunakan untuk membeli alat – alat ukir antara lain; bobok, propil dan bor. Sebetulnya masih banyak alat – alat  yang  belum bisa terbeli olehnya,  sehingga besar harapan pemerintah memperhatikan kendala ini untuk membantu mencarikan solusi untuk permasalahan yang dihadapi difabel sepertinya.\r\n\r\nDemikian sekelumit kisah wirausaha disabel, Suparno dan Wakris, yang bisa menginspirasi bagi kita semua. Keduanya adalah penyandang disabilitas yang selalu berusaha  eksis di masyarakat dengan wirausahanya.