Hari Internasional Penyandang Disabilitas telah diinisiasi oleh UN Enable pada 1992 dan dirayakan setiap tahun di berbagai belahan dunia untuk meningkatkan kesadaran dan meningkatkan dukungan pada isu-isu kritis terkait pelibatan penyandang disabilitas dalam masyarakat dan pembangunan. Tahun ini peringatan Hari Internasional Penyandang Disabilitas bertemakan Hal-hal Berkaitan dengan Inklusi: akses dan pemberdayaaan bagi orang-orang dengan segala kemampuan (Inclusion matters: access and empowerment for people of all abilities). Sebelum masuk lebih jauh tentang tema tersebut, alangkah baiknya jika kita mundur sedikit untuk menggali konteks isu ini.\r\n\r\nBagi sebagian besar orang, disabilitas masih dipandang sebagai ketidakmampuan, ketidakbisaan, bahkan lebih parah lagi: kecacatan. Evolusi penyebutan dan konsep disabilitas telah sampai pada titik di mana disabilitas tidak lain adalah sebuah kondisi di mana hambatan fisik dan non-fisik seseorang bertemu dengan hambatan lingkungan dan sosial sehingga berbuntut pada hambatan yang bersangkutan untuk berperan aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan terlebih lagi, berkontribusi dalam pembangunan. Sehingga secara politis, apabila sebuah lingkungan dan struktur sosial telah dimodifikasi sehingga menjadi ramah terhadap orang dengan keterbatasan fisik atau non fisik tadi, maka seseorang tersebut bukanlah penyandang disabilitas. Sebagai contoh, jika sebuah desa telah memberikan fasilitas yang aksesibel buat warganya yang tunadaksa seperti penyediaan ramp di setiap fasilitas umum dan kemudian telah melatih perangkat desa untuk melayani warganya sesuai dengan kebutuhannya serta melibatkan warga tersebut dalam segala aspek kemasyarakatan sesuai haknya sebagai warga, maka disabilitas tidak eksis di sana.\r\n\r\nDalam tema Hari Internasional Penyandang Disabilitas ada beberapa isu yang menjadi fokus utama yaitu:\r\n

    \r\n

  • Membuat kota-kota inklusif dan aksesibel untuk semua
  • \r\n

  • Meningkatkan data dan statistik disabilitas
  • \r\n

  • Melibatkan orang-orang dengan disabilitas yang tidak terlihat dalam masyarakat dan pembangunan.
  • \r\n

\r\nLalu sebenarnya apa makna di balik itu semua dan bagaimana menurunkannya dari mimpi global ke cita-cita pada tingkat nasional?\r\n\r\nMembuat kota-kota inklusif dan aksesibel untuk semua\r\n\r\nSub tema ini sudah cukup jelas bahwa menciptakan kota yang inklusif dan aksesibel merupakan hal penting bagi semua apalagi penyandang disabilitas. Namun tema ini sebenarnya perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia karena berbeda dengan kebanyakan negara lain di dunia, kebanyakan populasi kita terkonsentrasi di pedesaan sehingga cukup penting memfokuskan perhatian isu aksesibilitas dan inklusi dalam konteks perdesaan. Tantangan dalam mewujudkan mimpi ini cukup besar karena berbeda dengan perkotaan yang relatif mudah terpapar oleh informasi, stigma dan diskriminasi cenderung lebih besar di desa dan ini merupakan hambatan pertama dan terbesar karena berkaitan dengan pola pikir dan kepercayaan yang ditradisikan sejak lama.\r\n\r\nMeningkatkan data dan statistik disabilitas\r\n\r\nIni jelas-jelas masalah global, termasuk Indonesia! Ketiadaan data dan informasi tentang disabilitas yang akurat dan bisa dipercaya menghambat perencanaan dan implementasi program-program yang berfokus pada pelibatan penyandang disabilitas. Dalam konteks Indonesia, data-data ini diperlukan dalam memetakan permasalahan dan kemudian merancang program pembangunan, baik itu khusus menyasar penyandang disabilitas maupun pembangunan nasional yang harusnya ramah terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Perbedaan standar pendataan masih merupakan sumber ketimpangan pendataan di negeri ini karena setiap pemangku kepentingan menerapkan standar yang berbeda-beda. Dalam konteks peringatan HPDI kali ini, bisa lebih didorong tentang bagaimana menguatkan kapasitas kita sebagai pelaku isu disabilitas dalam pengumpulan dan diseminasi data disabilitas berdasarkan praktik-praktik baik dan terlebih utama lagi meningkatkan pelibatan penyandang disabilitas dalam prosesnya.\r\n\r\nMelibatkan orang-orang dengan disabilitas yang tidak kelihatan dalam masyarakat dan pembangunan\r\n\r\nSub tema di atas menjadi sangat penting diangkat karena kenyataannya penyandang disabilitas dengan disabilitas yang tidak kelihatan lebih rentan terhadap “ketidakterlibatan” atau “pengeluaran” dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, pendidikan dan kegiatan utama-utama lainnya. Sehingga para pemangku kepentingan harus mencari cara dalam meningkatkan pelibatan mereka melalui praktik-praktik baik yang pernah dikembangkan sebelumnya, baik di daerah maupun internasional.\r\n\r\nPada ujungnya, tentunya kita bisa kembali ke organisasi dan diri kita masing-masing untuk merefleksikan kontribusi apa yang kita bisa berikan dalam mendukung isu-isu di atas, supaya peringatan Hari Internasional Penyandang Disabilitas ini bukan hanya menjadi perayaan seremonial belaka. Alangkah disayangkan apabila peringatan yang bisa dimaknai lebih dalam agar minimal kita bisa meningkatkan pemahaman dan kesadaran kita tentang isu disabilitas berlalu begitu saja. Sehingga alih-alih memperingati dan belajar darinya, kita melenggang tanpa menoleh, berhenti sejenak dan memaknai keberagaman peradaban kita sendiri.